Puisi pukul 00.27; Inheren

Besok aku mau makan nasi pake cokelat. Kenapa, kau ingin bilang aku aneh? Memang siapa yang melarang makan nasi berlauk cokelat?

Kita hidup dengan kemelekatan. Sedih, cemas, takut, lelah, salah adalah hal selain bahagia juga senang yang melekat dengan kita. 

Akhir-akhir ini saat hanya duduk sendiri, saya diam-diam mengamati bagaimana sedih bisa datang tiba-tiba dan tetap tinggal, bahkan ketika saya sudah merasa “alah cuma masalah kecil kok sedih” Apakah perasaan ini datang dari luar, atau sejak awal memang sudah ada di dalam diri? Apakah sedih itu sekadar tamu, atau sebenarnya penghuni tetap? Mungkin, jawabannya: inheren 

Seringkali, kita menganggap emosi sebagai sesuatu yang datang dan pergi. Seperti hujan yang turun sesekali, lalu mengering. Atau seperti dia yang hanya datang lalu pergi meninggalkan bekas luka (eakk). Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Emosi bukan cuaca. Emosi adalah tanah tempat kita berpijak. Ia melekat. Ia tumbuh bersama kita. Mereka semua inheren.

Sedih bukan berarti lemah, itu adalah cara hati untuk menunjukan ada sesuatu yg pergi. Senang bukan kebetulan, kadang muncul dari hal kecil yg tidak kita pedulikan. Bahagia bukan tujuan, ia muncul saat kita sedang bersyukur. Cemas bukan musuh, itu supaya kita berwaspada. Ketakutan tidak selamanya harus dikalahkan, bisa jadi takutlah yang menyelamatkan kita. Tapi sayangnya, kita hidup di dunia yang sering menyuruh kita untuk "kuat", untuk "move on", untuk "gausah baperan."

Kita diajarkan untuk menolak kesedihan, menyembunyikan rasa takut, tertawa saat cemas. Padahal, yang kita tolak itu bukan tamu asing melainkan bagian dari diri kita sendiri. Tidakkah itu menyakitkan? Menjadi asing di 'rumah' kita sendiri?

 Mungkin yang kita butuhkan bukanlah cara untuk menghilangkan emosi, tapi keberanian untuk menghadapi dan menerimanya. Untuk duduk bersama sedih, menyapa takut, mendengarkan cemas dan tetap berjalan. Karena perasaan-perasaan itu tidak akan pernah sepenuhnya pergi. Dan itu bukan berarti kita gagal, itu artinya kita manusia.

“Mungkin kita tidak perlu sembuh dari semuanya. 

Mungkin kita hanya perlu mengenal yang sudah ada yang sejak awal, inheren.”

_Strangers


Jogja, 07 Mei 2025

Novasari

Komentar

Postingan Populer