Bagaimana Seharusnya Kita Memaknai Bertemu Orang Lain?

Dulu, sebelum benar-benar menjadi mahasiswa, ada kegelisahan kecil yang kerap datang menjelang tidur. Tentang kemungkinan merasa sendirian. Tentang bayangan berada di lingkungan yang asing. Tentang hari-hari yang mungkin harus dijalani tanpa merasa benar-benar diterima. 

Kekhawatiran itu terasa wajar waktu itu. Seolah masa depan hanya bisa ditebak-tebak dari jarak yang belum pernah ditempuh. 

Namun hari-hari pertama kuliah rupanya berjalan dengan cara yang tidak saya duga. Tanpa rencana apa-apa, saya dipertemukan dengan orang-orang yang begitu baik, sampai rasanya seperti berlebihan. Mereka yang membuat hari-hari terasa ringan, obrolan memanjang nan absurd tanpa terasa, dan tawa hangat.

Sebagian dari mereka masih tinggal sampai sekarang. Sebagian lain perlahan menjauh, tersaring oleh waktu dan keadaan, apa yang biasa kami sebut, sambil berseloroh, sebagai seleksi alam. Tetapi masing-masing pernah mengambil bagian dalam satu masa yang penting dalam hidup saya.

Dari perteemuan-pertemuan ini, saya belajar banyak hal. Belajar mendengar tanpa tergesa menyela. Belajar menerima perbedaan tanpa merasa perlu menjadi paling benar. Belajar bahwa setiap orang membawa dunianya sendiri, dan dunia itu layak untuk dipahami.

Bukan hanya teman sebaya. Selama kuliah, saya juga dipertemukan dengan orang-orang hebat yang kerap membuat saya bertanya dalam hati, "memangnya saya ini siapa?" Rasanya ganjil bisa berada di ruang yang sama, bisa berbincang, bisa belajar langsung dari mereka. Pertemuan-pertemuan itu diam-diam menggeser cara saya memandang hidup.

Akhir-akhir ini, rasa syukur itu datang lebih sering dari biasanya. Bukan karena ada peristiwa besar, melainkan karena saya mulai menyadari betapa banyak orang baik yang pernah singgah dalam perjalanan ini.

Dan di tahun terakhir ini, ada perasaan yang pelan-pelan tumbuh, keengganan untuk berpisah "ah gamau lulus cepet, masih betah kuliah". Rasanya belum siap meninggalkan lingkungan yang sudah terlanjur terasa seperti rumah. Kampus, rumah teman-teman, kost teman, kedai kopi yang menjadi ruang diskusi, serta obrolan-obrolan kecil yang kelak mungkin justru paling dirindukan.

Dan di tengah rasa syukur itu, muncul kegelisahan baru. Jika dulu saya takut tidak memiliki teman, kini saya takut tidak lagi dipertemukan dengan orang-orang sebaik ini di fase hidup berikutnya. Apakah keberuntungan semacam ini akan datang lagi, atau justru saya harus belajar berjalan sendiri?

Barangkali dari semua itu, saya mulai memahami sesuatu yang sederhana bahwa setiap pertemuan tidak pernah benar-benar biasa. Selalu ada yang tertinggal. Entah pelajaran, kenangan, cara pandang baru, atau sekadar rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Dan mungkin, memang begitulah seharusnya pertemuan dimaknai. Bukan dari lamanya kebersamaan, melainkan dari apa yang berubah dalam diri kita setelahnya.


"Barangkali, begitulah cara hidup mempertemukan dan memisahkan kita"

-Strangers

Jogja, Januari 2026

Novasari

Komentar

Postingan Populer